Kalau ada yang lembut, mengapa ada juga yang keras?

Istilah teknisnya kelapa batu. Kalau tidak seperti anu, terus diberi cap dilabeli dan diembel-embeli. Yang seperti itu masuk ke kelompok wewe gombel. Tapi yang seperti ini masuk label yang diterima. Keras dan tegas dalam melabeli adalah ciri khasnya.

Jalannya kaku, tidak ada negosiasi, persuasi gara-gara kacamata yang dipakai adalah kacamata kuda. Lurus, lugas, tanpa irama. Sunyi tanpa warna, tanpa iringan musik yang riuh dan penuh irama dan dinamika. Hambar.

Sudah tabiat manusia, kalau orang diberi pengertian tertentu secara berulang-ulang dan periodik, pengertian itu secara perlahan tapi pasti akan tertanam di dalam otak. Dari situ dijadikan acuan dalam bertindak. Kalau tidak putih ya hitam dan titik. Merasa melihat hitam muncul penyepelean.

Itulah mengapa berbagai paham dan prasangka dianut orang. Asal ada pembinaan rutin minimal seminggu sekali, bisa dilihat orang itu loyal apa tidak terhadap paham tertentu. Mulai dari paham berlatar iming-iming ekonomi seperti MLM, sampai dengan paham yang bertendensi ideologis seperti komunisma dan kapilatisma. Orang bisa loyal ke paham manapun.

Penentu adalah filter yang setiap orang memilikinya, yakni hati nurani. Namun by default, hati nurani ini tidak selalu dalam posisi on dan siap kerja. Hati nurani mengalami masa byar dan masa pet. Tapi dalam kondisi pet pun, sebenarnya dia menyimpan seberkas sinar yang berpotensi untuk muncrat, menyinari diri orang.

Perlakuan kaca mata kuda sering mentabir hati nurani dengan kuat. Perlakuan ini lebih memanfaatkan dominasi potensi otak, kalkulasi rasional, ilmiah saintifik duniawi. Dominasi ini membungkus hati nurani. Ya sudah, akhirnya potensi kedirian yang kuat menjadi dominan.

Lain halnya kalau hati nurani diniatkan untuk muncul memandu anggota yang lain termasuk otak, akal, perasaan dan hati itu sendiri. Secara spontan dan natural semua anggota akan berfungsi sinergis dan harmonis dengan diri-diri di luar dirinya. Pandangannya menjadi jauh ke depan bebas dari kebodohan, prasangka, dan rela untuk meminta ampun dari dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Tiga syarat diperlukan agar hati nurani bisa bekerja. Pertama, kemauan belajar; kedua,  kemauan menjauhi dosa dan meminta ampun, dan ketiga, kemauan melepaskan diri dari prasangka. Setelah ada kemauan, tingkatan bisa dinaikkan dengan kerelaan, lalu dijadikan akhlak yang terjadi secara otomatis tanpa melalui proses pertimbangan pemikiran lagi. Dari sinilah nanti kelembutan memancar. Melihat segala fenomena dan kejadian hidup dan orang hidup sudah tidak lagi gumunan, kagetan, dan gedabigan. Semua yang dilihat bisa dijadikan pelajaran. Semua tidak sia-sia.

[Catatan: Untuk peringatan, paragraf-paragraf di atas hanya untuk bacaan pribadi. Kalau ada orang yang terlanjur membaca, risiko ditanggung oleh yang bersangkutan.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s