Lapis-lapis peraturan

Terpikir olehku, orang bisa memilih. Ada yang memilih jadi semut. Ada yang memilih jadi tikus. Ada yang memilih jadi harimau. Ada yang memilih jadi monyet. Ada yang memilih jadi babi. Ada yang memilih jadi dan sebagainya.

Ada yang memilih jadi orang.

Ada yang memilih untuk tidak jadi apa-apa. Termasuk ada yang tidak mau memilih, mau jadi apa pun terserah.

Apapun pilihan orang, kalau orang itu konsisten, dia akan menjalaninya sesuai dengan yang dia pilih. Jadi tikus, orang akan mengerat ke sana kemari. Mencari benda-benda yang bisa dikerat. Melubangi apa-apa yang dikira di dalamnya ada yang bisa dimakan. Pokoknya dia “bahagia” kalau bisa melaksanakan sebesar-besarnya fungsi tikus. Dia juga harus tahu seluk beluk kucing. Di sini, kucing adalah musuhnya. Dia mempelajari ilmu perkucingan. Dia mempelajari aturan pertikusan. Dan seterusnya, jadilah dia tikus yang sukses.

Jadi apapun, kalau ingin sukses, ada aturannya yang mesti dipatuhi dan dijalani.

Kelihatannya, dalam rentang kehidupan, orang pernah mengalami jadi ini, jadi itu, jadi dan sebagainya, sampai titik tertentu. Ada orang yang pernah mengalami jadi semut, lalu jadi babi, lalu dan seterusnya, jadi orang. dan seterusnya.

Pada akhirnya, orang mau jadi apa?

Yang kelihatan, dan sering kita lihat, akhirnya orang jadi hilang, kembali. Tubuh orang kembali terurai kembali ke tanah, kalau dikubur. Kalau dibakar, ya terurai juga lewat reaksi dan proses pembakaran.

Sementara itu, unsur yang dulu pernah menyebabkan orang hidup, secara pengamatan kasar, kita tidak tahu unsur itu pergi ke mana.

Kata orang yang “tahu”, unsur itu kembali ke asalnya juga, berjalan menuju ke hadapan Tuhan.

Apakah sebelum unsur itu lepas dari fisik, unsur itu masih menempel di fisik, apakah unsur itu suka kalau orang itu jadi tikus? jadi ayam? jadi monyet? jadi kambing?

Wah kamu menyinggung saya ya? mosok saya disamakan dengan hewan-hewan peliharaan dan hewan-hewan liar kayak gitu?

Lha, tapi kata Kitab Suci yang Tertulis, ayatnya lupa, meskipun sebagian besar orang menyangkal untuk jadi hewan-hewan seperti itu, ada indikasi bahwa sebagian besar orang mereka banyak yang jadi ayam, jadi sapi, jadi kerbau, jadi bebek, jadi itik (termasuk jadi politik = komPOLane ITIK, wek..wek..wek..),  dsb., bahkan jadi lebih buruk dari hewan-hewan piaraan!

Untuk jadi orang dan bukan orong-orong, sepertinya dibutuhkan kesadaran yang mendalam dan niat yang sungguh-sungguh untuk menuju ke situ. Lalai sedikit, tiba-tiba saja kita sudah berubah jadi itik, wek..wek..wek., Lalai sedikit lagi, tiba-tiba saja kita sudah jadi tikus, lubangi sana lubangi sini, tak peduli.

Terus bagaimana ini? apakah sulit untuk jadi orang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s