Mengomentari Tajuk Republika Hari ini: Kematangan Berdemokrasi

Berikut saya kutip tajuk republika hari ini.

Kematangan Berdemokrasi

Kita begitu bangga mengklaim diri sebagai negara demokrasi yang dihargai bangsa-bangsa lain. Negeri yang katanya sudah sangat layak dijadikan angin pembawa perubahan bagi negara-negara di sebelahnya yang masih jauh dari nilai-nilai demokrasi. Tetapi, ternyata angin itu sendiri kurang bersahabat dcngan kita. Lihat saja, saat para wakil rakyat menggelar sidang paripurna kasus Century, Selasa (2/3). Dagelan politik menyebalkan disaksikan jutaan warga bangsa di seluruh Tanah Air. Demokrasi hanya sekadar slogan dan kata-kata. Yang terjadi, betapa kita lihat pimpinan DPR yang terhormat telah mengecilkan arti demokrasi. Pimpinan DPR telah menyumbat saluran demokrasi yang semestinya dibiarkan mengalir bak air sungai.

Di luar gedung DPR, di jalan-jalan, hati kita juga terenyuh melihat demokrasi dengan sangat jelas dikhianati. Tentu, demonstrasi merupakan bagian penting dalam politik yang demokratis. Tetapi. ketika aksi-aksi itu menjadi liar, rusuh, dan saling bentrok, jelas itu sama saja dengan menginjak-injak demokrasi.

Belum lagi kita melihat aksi-aksi menghina, membunuh karakter individu dengan menyebarkan poster dan spanduk di jalan-jalan. Seseorang dieaci-maki dan dihina pada spanduk-spanduk yang juga dilihat mereka yang berlalu-lalang. Sekali lagi, demokrasi kembali ternoda. Demokrasi adalah mengkritik, bukan menghina.

Kematangan berdemokrasi yang masih jauh dari kita. Demokrasi menjadi berwibawa, penuh makna, dan berdiri pada tempatnya, jika kita menghormati prinsip-prinsipnya. Apa yang terjadi di gedung DPR dan di jalan-jalan, kemarin, tentu sangat memalukan. Tak ada penghormatan terhadap simbol-simbol dan lembaga negara. Tak ada respek terhadap proses yang seharusnya mereka jalani dalam mengekspresikan keinginan mereka.

Kata Mahatma Gandhi, demokrasi tak ada artinya jika mereka yang terlibat di dalamnya saling mencaci, berseteru, dan bertengkar. Percuma berdemokrasi jika itu hanya membuat rakyat menjadi geram, marah, kesal, dan semakin tidak memercayai para politisi dan partai politik. Jika itu yang terjadi, hancurlah kita sebagai bangsa yang bermartabat.

Jelas, kita ingin kasus Century diselesaikan seeara tuntas. Kita ingin tak ada transaksi jual beli antarparpol dalam skandal yang merugikan negara ini. Kita ingin tangan-tangan hukum menyentuh kasus ini dan menjerat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan. dengan tegas kita katakan bahwa kita menolak politik dagang sapi yang memuakkan yang terlihat dari manuver-manuver politik menjelang paripurna digelar.

Kita ingin para politisi tidak menjadikan hina-menghina dan cacimaki sebagai bagian yang terselip dalam berdemokrasi. Kita mendorong agar mereka lebih memilih jalan kritis, mengkritik, dan berlaku objektif dalam berbagai poses politik yang sedang berjalan. Politik kotor sudah semestinya jauh kita buang ke dasar lautan yang terdalam. High politics-lah yang menjadi panglima kita. Dan kita berharap, demokrasi kita semakin matang.

Komentar saya adalah berikut.

Dari pernyataan koran Republika di atas, saya merasakan betapa kering pengamalan demokrasi oleh umat manusia. Demokrasi dari sananya memang kering. Artinya, kalau demokrasi dilanggar, seperti kasus yang terjadi dalam praktik di sidang di negeri kita di atas, tidak akan ada sanksi baik langsung oleh petugas keamanan, institusi hukum, dsb., maupun oleh individu yang melanggar. Maksud saya, individu pelaku demokrasi yang melanggar demokrasi seperti di tajuk republika di atas, tidak akan merasa bersalah, berdosa, apalagi merasa kalau perbuatannya (atau mereka) nanti harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Apakah dalam hal ini pelaku demokrasi sudah tidak lagi mengakui Tuhan? Saya tidak tahu. Tapi melihat gejala fisik yang mereka perlihatkan di media-media, apakah perbuatan itu mencerminkan orang yang percaya kepada Tuhan? apakah itu lewat aliran kebatinan/kepercayaan, maupun lewat agama?

Apa beda mereka dengan para supporter sepak bola yang kisruh di lapangan sepak bola?

Apakah mereka dapat digolongkan sebagai orang yang berpendidikan? Ataukah apakah ini pertanda bahwa sistem pendidikan kita telah gagal mendidik orang-orang yang berpendidikan? bermoral? beretika? berkepercayaan? beragama? bertanggung jawab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s