Mengomentari Tajuk Republika: Lindungi Pemain Lokal

Klipping tajuk tersebut aku sajikan dulu di sini, untuk dibaca dulu. Komentarnya belakangan.

Di tajuk disinggung berkali-kali bahwa pemerintah dalam hal ini di posisi salah. Perlindungan pemain lokal adalah kewajiban pemerintah. Aku hanya tersenyum-senyum. Siapakah pemerintah dewasa ini? Aku tidak yakin sekarang ini ada pemerintah. Yang ada adalah oknum-oknum yang di kepala masing-masing yang ada adalah kewajiban untuk membebaskan diri dan keluarga mereka dari “kemiskinan”, kewajiban untuk membebaskan orang-orang terdekat mereka dari penderitaan kalau kekurangan harta benda.

Wajar, kalau para oknum pemerintah sudah menetapkan sendiri peraturan yang melarang pemain asing untuk menjajakan dagangan mereka di komunitas lokal, oknum pemerintah sendiri akan memperdagangkan peraturan itu, misalnya lewat tawar-menawar dengan pemain asing untuk menyepakati boleh berjualan di situ asalkan upeti masuk ke oknum kita.

Lho kok aku berburuk sangka kepada oknum pemerintah? Apakah aku sudah tidak mempercayai lagi kalau ada oknum pemerintah yang masih bersih, terbebas dari hobi tawar-menawar, hobi mengumbar aji mumpung, hobi berdagang dengan jabatan dan kedudukan, hobi mengumpulkan harta benda untuk orang-orang dekat, dsb?

Bukan begitu, soalnya kalau kita balik (berpikirnya), misal sebagian besar oknum pemerintah adalah orang-orang yang bersih dan pengabdi yang tangguh, khususnya pentolannya, tidak akan terjadi Tajuk Republika menemukan fakta demikian di lapangan di seluruh negara Indonesia kita ini.

Apakah aku sekarang akan ikut mengatakan bahwa oknum pemerintah Indonesia kita (termasuk saya juga di dalamnya) adalah golongan orang-orang yang bobrok? calon penghuni lembah derita (setelah nanti kita mati)? Aku juga tidak berani berkata demikian.

Lalu dari mana cara memperbaikinya? Ideologi globalisma, makelarisma, inlanderisme, asaluntungisme, mumpungisme sudah masuk dan mendarahdaging di tubuh kita. Sofware yang sudah tertanam di otak dan hati kita sudah tidak lagi software murni dan hanif nilai-nilai Islam, kearifan, kejujuran, pengabdian, penghambaan, tapi sudah di-downgrade dengan software kapitalisma, neoimperialisma, kleptomainaisme, mengumpulkan-uang-sebanyak-banyak-isme., dsb-isme.

Bagaimana cara meng-uninstal, membongkar, software busuk yang sudah tertanamkan di akal dan hati kita masing-masing ini? Adakah cara cepat, misal sekali semprot, terus akal dan hati kita bisa langsung bersih dari software trojan, virus, backdrop yang meruntuhrontokkan negara Indonesia ini? Setelah itu dengan semprotan berikutnya, akal dan hati kita terinstal dengan software yang waras dan normal?

Mengapa saya tega mendapatkan upeti dari pedagang asing untuk kemudian melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ulah saya membawa derita berkepanjangan kepada orang-orang/penduduk lokal sekaligus kepada anak cucu, cicit, dst., mereka?

Apakah dalam hal ini (ketegaan saya ini) bukan atas kesadaran saya sendiri, tapi karena saya memang sudah jadi humanoid+software jahat yang sudah mengendon di akal dan hati saya, sehingga saya sudah tawar dan hambar melihat penderitaan orang lain di sekeliling saya? dan saya sudah tidak sensitif lagi dalam hal ini?

Mengingat banyaknya jumlah humanoid perusak yang sudah bercokol di tanah dan air Indonesia, apakah perlu muncul seorang tokoh penggerak yang bisa memulai pembersihan akal dan hati para humanoid itu? Masih adakah orang yang demikian? Maksudku, orang yang masih bersih dan masih belum tercemar oleh virus ini?

Ya muqollibal quluub tsabbit quluubana alaa diinika…. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s