Mengomentari Tajuk Republika: “Pelajaran Moral Century”

Aku sisipkan dulu kliping dari Republika dari sini:

http://republika.pressmart.com/RP/RP/2010/01/28/ArticleHtmls/28_01_2010_004_004.shtml?Mode=1

Saya hanya ingin berkomentar dari sisi kata-kata yang pernah saya ingat dari Nabi SAW, lupa redaksi aselinya tapi kurang lebih, “kalau penguasa sudah cinta dunia dan takut mati, ya pokoknya yang ada hanyalah kerusakan.”

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kasus yang mencuat (Bank Century) ini adalah akibat dari (mungkin) ada penguasa dan orang-orang dekat di kekuasaan (termasuk penguasaha) yang sudah dunia oriented. Material oriented. Sudah tidak lagi takut mati. Kematian tidak ada. Surga setelah mati tidak ada. Yang ada hanyalah sorga dunia, yakni kepuasan material termasuk bumbu-bumbu di dalamnya.

Apa sudah tidak ada lagi orang yang bukan seperti itu yang juga ikut di kekuasaan di Negeri Nusantara ini? dari jaman mulai merdeka sampai sekarang?

Kemungkinan sih ada, cuma mereka mungkin jumlah secara kuantitas minoritas; atau mungkin secara kualitas kalah dengan gerombolan pecinta dunia yang merubung di pusat-pusat kekuasaan negeri Indonesia ini. Di sini mungkin berlaku (sabda Nabi SAW apa bukan), lagi-lagi redaksinya lupa, kurang lebih, “Sistem kebatilan yang terorganisir mampu mengalahkan kebenaran yang lemah organisasinya.”

Secara hakekat semuanya sudah terjadi; tapi bukankah di jaman dulu, di jaman perjuangan Rasul SAW, kejadian yang mirip seperti ini juga terjadi? Adanya kebatilan yang terorganisir tentu tidak akan didiamkan oleh kelompok anti kebatilan. Sekalipun sampai sekarang (sejak kemerdekaan sejarah, 1945) kebatilan sistemnya terus menguasai Indonesia, tidak mungkinkah orang-orang anti kebatilan, orang-orang yang masih lurus dan masih anti korupsi dan masih anti perampokan dan anti penjarahan tidak mampu mengalahkan mereka? dalam waktu setahun ke depan? dua tahun ke depan? empat tahun ke depan? empat puluh tahun ke depan?

Tidakkah kita pernah mendengar bahwa “ada perguliran sejarah”. Di suatu saat kebatilan berkuasa, tapi di saat yang lain kebatilan hancur dan tercerai berai?

Apakah dengan demikian kita ndomblong saja? menjadi pengamat saja? menjadi pemirsa yang baik saja? Ataukah kita ingin berperan masuk ke dalam salah satu kelompok? kelompok maling? atau kelompok anti maling?

Selamat menyaksikan pertempuran antara kelompok maling melawan kelompok anti maling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s