Kangen (minum) legen

Saya tidak ingat, kapan saya terakhir minum legen. Tapi ingatan terlekat saya adalah ketika saya masih kecil di tanah kelahiran di sebuah desa di Kabupaten Pati. Ketika itu saya usia SD lah. Sering, ada penjual legen keliling. Beberapa potongan bumbung berisi legen tertutup dengan tutup daun siwalan kering dipikul penjual legen.

Legen adalah minuman yang terbuat dari pohon siwalan. Pohon siwalan banyak tumbuh di daerah pesisir pantai utara Juana, Rembang, Lasem dst. menyusur terus sampai Surabaya. Rasa legen ketika diminum ada manisnya. Tapi ibu saya ketika beli legen kadang ada yang difermentasi lagi sehingga menghasilkan legen yang kecut. Legen kecut ini dipakai untuk masak, kalau sekarang ya cuka itu lah.

Pernah saya melihat di pinggir jalan di Yogyakarta, ada juga penjual legen. Sambel menjajakan legen dia juga menjual buah siwalan. Namun aku belum pernah membeli legen di sana.

Oh ya, legen dengan klelegen mirip ya? Tapi artinya jauh beda. Soalnya, klelegen itu kan seistilah dengan kloloden. Kalau gojegan masa SMA dulu teman-teman suka juga dengan istilah “kloloden blandar”. Apa ya istilah Indonesia untuk kloloden? Ya, kalau dideskripsikan, orang kloloden itu misalnya ketika orang makan terus makanan itu belum sempat tertelan, tertahan di tenggorokan, sulit masuk dan sulit keluar. Itulah kloloden.

TBC = To be Continued ….

[Catatan ini gak mutu blas, tolong gak usah dibaca! Namun kalau udah terlanjur membacanya sampai di sini, ya nasib. Mudah-mudahan ada pelajarannya.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s